Renstra

Rencana Strategi Pengembangan Pusat :

Mengingat prospek pengembangan yang masih terbuka lebar, maka percepatan pembangunan peternakan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Percepatan tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langkah strategis (Rumusan hasil seminar nasional “Percepatan Peningkatan Populasi Sapi di Indonesia” oleh CENTRAS-LPPM IPB, 2009), yang meliputi :

1. Revitalisasi program perbibitan ternak.

Program ini meliputi (a) usaha perbibitan modern padat modal dan padat teknologi dan (b) usaha perbibitan berbasis pedesaan (village breeding centre).Bangsa ternak lokal atau bangsa ternak exotic yang telah teradaptasi harus dikembangkan secara sistematis berdasarkan prinsip-prinsip pemuliaan yang benar dan berkelanjutan. Sinergi antara usaha perbibitan modern dan usaha pembibitan berbasis pedesaan harus dibangun untuk keberlanjutan pengembangannya.

2. Regulasi dan kebijakan.

Terbitnya Undang-Undang No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan momentum yang sangat baik dalam upaya revitalisasi perbibitan khususnya dan pengembangan usaha peternakan secara umum mulai dari hulu sampai hilir. Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (PP, Keppres, Kepmen dll.) yang secara spesifik memberi dukungan riil bagi pengembangan usaha perbibitan ternak harus segera diwujudkan. Seiring dengan berkembangnya otonomi daerah, perlu penguatan regulasi dan kebijakan melalui peraturan daerah yang sinergis dan kondusif untuk menjamin kesinambungan usaha perbibitan ternak. Pelarangan pemotongan hewan betina produktif harus terus ditegakkan.

3. Jaminan kesehatan hewan.

Berbagai penyakit infeksi dan penyakit menular strategis perlu perhatian khusus terutama dalam upaya menekan angka kematian anak. Program pemerintah dalam pemberantasan kemajiran dan pengelolaan kesehatan reproduksi perlu dihidupkan kembali. Untuk itu perkembangan industri nasional obat-obatan dan hormon perlu pula didukung melalui insentif dan dukungan R & D yang memadai. Penguatan kelembagaan kesehatan hewan dan sumberdaya manusia (SDM) amat diperlukan dalam rangka melindungi sumberdaya ternak di wilayah Republik Indonesia.

4. Peningkatan produktivitas pakan dan perluasan sumberdaya lahan. Banyaknya lahan perkebunan dan kehutanan serta lahan pertanian, yang belum maksimal pemanfaatannya perlu diintegrasikan dengan usaha peternakan sebagai sumberdaya pakan yang murah. Jutaan hektar lahan Perhutani, perkebunan kelapa sawit, karet, kelapa, kopi dan cokelat dapat diintegrasikan dengan peternakan melalui kerjasama saling menguntungkan. Pupuk organik hasil limbah peternakan dan limbah perkebunan merupakan trade-off yang dapat saling dimanfaatkan. Integrasi ternak dan komoditas tanaman lainnya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga memberi kondisi yang saling menguntungkan pada sisi ternak maupun tanamannya.

5. Optimalisasi pemanfaatan teknologi modern dan tepat guna.

Teknologi merupakan salah satu faktor terpenting dalam konteks percepatan peningkatan populasi ternak. Teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan, transfer embrio dan manipulasi gamet (fertilisasi in vitro, pemilihan jenis kelamin/sexing embrio dan sperma, produksi kembar); serta teknologi pemuliaan seperti marker assited selection merupakan teknologi yang harus terus dikembangkan. Balai Inseminasi Buatan (nasional dan daerah/D) yang telah tumbuh menjadi 21 BIB (D) harus terus dibina dan didukung oleh pemerintah pusat dan daerah untuk menjadi institusi pembibitan dan menjadi penjamin kualitas bibit di masing-masing daerah. Di sisi lain, teknologi sederhana dan tepat guna yang menjadi tradisi petani peternak di pedesaan tidak perlu dihilangkan sepanjang masih memberikan manfaat dalam peningkatan populasi ternak.

6. Akses modal, pemberian insentif, dan kemitraan.

Usaha perbibitan ternak yang memerlukan modal besar dan perputaran dana yang relatif lama perlu diberi kemudahan dari sisi permodalan dan pembiayaannya. Program pemerintah dalam pemberian subsidi bunga bagi investor yang bergerak di bidang perbibitan perlu didukung dan diharapkan dapat terus diimplementasikan secara konsisten. Selain itu, kemitraan yang saling menguntungkan antara pengusaha perbibitan dan peternak berskala kecil juga perlu dikembangkan melalui pola-pola yang saling menguntungkan dan menghindari bentuk-bentuk eksploitasi. Rencana kebijakan untuk mendorong usaha perbibitan dengan mewajibkan importir daging, importir ternak potong dan importir ternak bakalan menyisihkan kuotanya dengan ternak betina produktif impor perlu didukung.

7. Penyiapan sumberdaya manusia dengan kompetensi tinggi.

SDM yang terampil dapat disiapkan melalui pendidikan formal maupun secara informal melalui pelatihan atau pendampingan Perguruan tinggi dengan sumberdaya manusia berkualitas yang memadai dapat bekerjasama dengan kalangan industri dan pemerintah untuk secara terus-menerus mendidik dan memperbanyak tenaga terampil yang mampu menjalankan usaha peternakan secara profesional. Revitalisasi pendidikan profesional peternakan dan veteriner perlu dilakukan dengan melibatkan pelaku bisnis peternakan untuk ikut serta menyusun sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Arah Pengembangan Pusat

Dalam rangka menyikapi isu-isu aktual dan permasalahan terkini, maka CENTRAS LPPM IPB perlu mengorientasikan program-programnya secara lebih terfokus agar dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan sesuai visi dan misi yang diembannya.Beberapa prospek penting pembangunan yang perlu didukung (support) adalah:

1. Peternakan sebagai pertumbuhan baru ekonomi dimana kontribusi peternakan terhadap PDB masih tinggi dan meningkat akhir-akhir ini, ketahanan pangan, penyediaan lapangan kerja.

2. Percepatan swasembada daging yang menjadi prioritas pembangunan.

3. Implementasi perundang-undangan.

4. Pembangunan  Peternakan modern yang langgeng (terhindar dari krisis) dan berskala industri.

5. Pengembangan peternakan berbasis komunitas.

6. Pemanfaatan sumberdaya untuk pakan dan sistem penyediaannya beserta pengawasan mutu.

7. Perluasan sistem integrasi ternak berbasis produksi bersih.

8. Adanya satwa harapan maupun hewan-hewan kesayangan yang dapat menjadi sumber-sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

Selain itu masih terjadi masalah peternakan yang membutuhkan solusi alternatif:

  1. Terpuruknya peternakan sapi perah.
  2. Penanganan masalah di hulu terutama perbibitan belum memadai.
  3. Melemahnya kelembagaan subsektor peternakan.
  4. Wabah penyakit yang semakin berkembang/Siskeswannas belum memberikan tingkat keterjaminan yang memadai.

Leave a Reply