Kajian Penerapan Stunning Pada Penyembelihan Sapi

KAJIAN PENERAPAN STUNNING PADA PENYEMBELIHAN SAPI DI RUMAH POTONG HEWAN RUMINANSIA DI JAWA BARAT

Pusat Studi Hewan Tropika (Center for Tropical Animal Studies,CENTRAS) Institut Pertanian Bogor memiliki rekam jejak pelaksanaan sejumlah penelitian yang terkait dengan logistik, rantai pasok dan penilaian mutu produk pangan asal hewan. Oleh karena itu, CENTRAS bekerjasama dengan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat melaksanakan kegiatan dengan tema “Kajian Penerapan Stunning pada Penyembelihan Sapi di Rumah Potong Hewan Ruminansia di Jawa Barat”.
Maksud pelaksanaan Kegiatan ini adalah untuk memberikan gambaran penerapan stunning pada proses penyembelihan sapi di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPHR) di Jawa Barat yang meliputi aspek : sarana prasarana yang mendukung penerapan stunnin, sumber daya manusia (SDM) yang melaksanakan stunnin, proses pelaksanaan stunning, hasil penilaian kepala sapi pasca sembelih yang didahului dengan proses stunning dan tanpa proses stunning dan memberikan gambaran tentang hal-hal lainnya yang terkait dengan penerapan stunning.
Tujuan kegiatan ini adalah penyusunan dokumen acuan yang dapat menjadi acuan pertimbangan penerbitan rekomendasi penerapan stunning pada penyembelihan sapi di RPHR di Jawa Barat.
Hasil kegiatan menunjukkan validasi keberhasilan stunning dikaitkan dengan tanda-tanda kematian;sekitar 98,16% sapi masih menunjukkan gerakan nafas baik ritmis maupun yang tidak ritmis, 99,1% sudah tidak menunjukkan adanya reflek kornea serta 99,1% masih menunjukkan adanya gerakan badan. Pernafasan dapat digunakan sebagai indikator kehidupan karena dengan adanya nafas menunjukkan masih adanya aktivitas pusat pernafasan di batang otak.Hilangnya refleks kornea tidak dapat dijadikan sebagai indikator tanda-tanda kehidupan karena hewan yang pingsan dan yang mati sama-sama tidak menunjukkan adanya refleks kornea.Demikian pula gerakan anggota badan juga tidak dapat digunakan sebagai indikator kehidupan karena gerakan badan dapat dihasilkan oleh adanya refleks spinal. Dengan demikian berdasarkan gerakan nafas terdapat 2 ekor sapi (1,84%) yang diragukan status kehidupannya. Meskipun demikian jika dikonfirmasi menggunakan aktivitas jantung, semua sapi (100%) masih menunjukkan adanya aktivitas jantung yang ditandai adanya pancaran aliran darah sesuai irama jantung.
Berdasarkan alat stunning yang digunakan, penggunaan cartridge Scheemer menunjukkan hasil yang lebih baik dari sisi derajat stunning yaitu kurang dari 2, jumlah stunning yang paling sedikit serta interval sapi masuk sampai di stunning yang paling singkat. (Tabel 5).Hal ini disebabkan karena cartridge schemer mudah dioperasikan dan memiliki kepala baut yang lebih lebar sehingga kekuatan stunning menyebar lebih merata pada permukaan kepala.Jika dibandingkan dengan cartridgeMagnum Cash Knocker maka nilai derajat stunningnya sangat jauh berbeda yaitu lebih tinggi pada Magnum Cash Knocker.Hal ini disebabkan kepala baut magnum Cash Knocker lebih sempit sehingga kekuatan stunning lebih terpusat sehingga kerusakan tengkoraknya menjadi lebih parah.
Dalam hal penyembelihan, terdapat sedikit aspek yang perlu diperbaiki yaitu tindakan korektif pada saat terjadi false aneurisma (FA) atau penyumbatan aliran darah akibat adanya blood cloth. Sebagian besar juru sembelih terutama yang bersertifikat MUI, tidak melakukan tindakan korektif pada saat menemukan adanya false aneurisma .Oleh karena itu aliran darah menjadi tidak lancar dan lama. Terbentuknya false aneurisma di RPHR yang diamati masih tinggi yaitu sekitar 28% terjadi pada salah satu arteri dan 14,68% pada kedua arteri. Penyebab terjadinya false aneurisma ini bermacam-macam diantaranya, sapi yang terlalu stres , pisau yang tumpul, luka sayatan yang saling bertemu dan lain-lain. Gregory et al (2012) menyatakan salah satu penyebab terjadinya false aneurisma adalah sayatan sembelihan yang terlalu ke belakang. Namun dalam kajian ini ditemukan fenomena yang unik yaitu penyembelihan yang terlalu ke atas juga menginduksi terjadinya false aneurisma.


Gambar. Situasi pemotongan sapi di RPHRR Bubulak, Kota Bogor

Kesimpulan kegiatan dalam penelitian ini antara lain : Pelaksanaan stunning di Jawa Barat masih bervariasi tergantung pada sistem manajemen RPHR serta ketersediaan alat stunning yang dimiliki. Berdasarkan hasil penilaian kerusakan tengkorak, stunning di Jawa Barat masih belum mampu memenuhi kriteria HAS 23103, meskipun hampir memenuhi persyaratan kriteria SNI 99003. Sedangkan dari aspek kesejahteraan hewan, pelaksanaan stunning di Jawa Barat belum mampu memenuhi secara penuh terlaksananya prinsip kesejahteraan hewan akibat minimnya sarana terutama pada ketersediaan restraining boxes dengan penahan kepala dan leher, ketersediaan cartridge yang sesuai serta keterampilan petugas stunning. Keberhasilan pelaksanaan stunning di Jawa barat juga dipengaruhi oleh pelatihan terhadap petugas stunning, dan alat stunning yang digunakan.
Pada aspek penyembelihan, juru sembelih di RPHR di Jawa Barat umumnya telah mampu melakukan penyembelihan dengan baik. Meskipun demikian, masih ditemui tingkat kejadian false aneurisma yang cukup tinggi yang berkaitan dengan tingkat stress sapi sebelum penuyembelihan yang cukup tinggi, serta lokasi penyayatan yang belum sesuai dengan yang disarankan.

Comments are closed.