Kajian Gangguan Reproduksi Pada Ternak Sapi

KAJIAN GANGGUAN REPRODUKSI PADA TERNAK SAPI DI PROVINSI JAWA BARAT

Pusat Studi Hewan Tropika (Center for Tropical Animal Studies,CENTRAS) Institut Pertanian Bogor memiliki rekam jejak pelaksanaan sejumlah penelitian yang terkait dengan logistik, rantai pasok dan penilaian mutu produk pangan asal hewan. Oleh karena itu, CENTRAS bekerjasama dengan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat melaksanakan kegiatan dengan tema “Kajian Gangguan Reproduksi Pada Ternak Sapi di Provinsi Jawa Barat”.
Maksud kegiatan ini adalah memberikan gambaran tentang gangguan reproduksi ternak sapi di Jawa Barat meliputi aspek : Rancangan SOP petugas di tingkat kabupaten/kota untuk memulai langkah melaksanakan penanganan gangguan reproduksi pada ternak sapi, Prevalensi gangguan reproduksi pada ternak sapi perah dan sapi potong, dan Jenis dan jumlah kasus gangguan reproduksi pada ternak sapi perah dan sapi potong.
Tujuan kegiatan adalah terbitnya rancangan rekomendasi tentang pencegahan dan penanganan serta pelaporan gangguan reproduksi pada ternak sapi di wilayah provinsi Jawa Barat.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa upaya peningkatan produksi dan populasi sapi perah di masyarakat melalui program Inseminasi Buatan (IB) masih menemui berbagai permasalahan , diantaranya angka kebuntingan (CR) yang sangat bervariasi antara 7,46-71,25%, service per copception(SC) berkisar antara 1,17-5,51 (DITJENNAK, 1997) serta calving interval lebih dari 18 bulan. Bahkan dari hasil pengukuran indikator reproduksi di lima propinsi (Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Yogyakarta dan NTB) menunjukkan bahwa nilai rata-rata NRR (Non Return Rate) sebesar 74,49%, CR 67,11% dan SC 1,67.
Nilai indikator produktivitas ternak ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya (1) kondisi induk, (2) kualitas semen, (3) faktor manajemen serta (4) keterampilan petugas. Kondisi induk Kondisi induk sangat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas ternak, karena induk yang sehat diharapkan dapat menghasilkan keturunan (anak), sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan populasi. Akan tetapi hal ini tidak tercapai, jika induk berada dalam kondisi tidak sehat atau mengalami masalah reproduksi. Permasalahan reproduksi pada hewan betina dapat disebabkan oleh adanya (i) kelainan anatomi saluran reproduksi, (ii) gangguan hormonal dan (iii) abnormalitas sel telur. Gangguan reproduksi juga dapat diakibatkan oleh infeksi penyakit seperti endometritis, brucellosis dan leptospirosis.

Kelainan anatomi saluran reproduksi
Kelainan anatomi reproduksi pada hewan betina dapat bersifat genetik maupun non genetik, ada yang mudah diketahui secara klinis dan ada yang sulit untuk dideteksi, sehingga terkadang sulit didiagnosa. Kelompok yang sulit didiagnosa diantaranya adalah tersumbatnya tuba falopii, adanya adhesio antara ovarium dengan bursa ovarium, lingkungan dalam uterus yang kurang sesuai serta penurunan fungsí saluran reproduksi. Pada kelompok ini, yang paling sering dijumpai adalah adanya penyumbatan pada tuba falopii. Penyumbatan ini menyebabkan sel telur yang diovulasikan dari ovarium gagal mencapai tempat pembuahan yaitu di ampula dan sel mani juga terhalang untuk mencapai tempat pembuahan, sehingga proses pembuahan gagal. Tuba falopii yang buntu dapat berbentuk adhesio dinding tuba, adhesio antara ovarium dengan bursa ovarii, salpingitis baik akut maupun kronis, hidrosalping, kista pada saluran tuba, piosalping, hipoplasia tuba falopii yang bersifat genetik serta infeksi mikroorganisme yang terlalu banyak di dalam uterus, serviks atau vagina.

Gangguan hormonal
Hormon yang berhubungan dengan reproduksi diantaranya adalah hormon estrogen dan gonadotropin (FSH dan LH). Adanya gangguan pada sekresi hormon-hormon tersebut, akan mengakibatkan terjadinya kegagalan fertilisasi. Kasus-kasus seperti silent heat (birahi tenang) dan sub estrus (birahi pendek) disebabkan oleh rendahnya kadar hormon estrogen, sedangkan untuk kasus delayed ovulasi (ovulasi tertunda), anovulasi (kegagalan ovulasi) dan kista folikuler disebabkan oleh rendahnya kadar hormon gonadotropin (FSH dan LH). Ketidak-berhasilan pembuahan/kegagalan fertilisasi merupakan kerugian ekonomi pada sistem produksi yang intensif. Hilangnya siklus karena kegagalan dalam mendeteksi dan menginseminasi kembali hewan yang tidak bunting juga dapat merugikan dalam segi ekonomi (HUNTER, 1981).

Kadar estrogen yang rendah
Rendahnya kadar estrogen dalam darah terjadi karena adanya defisiensi nutrisi (βkarotin, P, Co) dan berat badan yang rendah. Hal ini akan menyebabkan terjadinya silent heat dan sub estrus pada sapi. Sub estrus terjadi jika dalam kurun waktu 30-120 hari, ternak tidak menunjukkan gejala birahi meskipun diamati dengan cermat. Bila dilakukan palpasi rectal akan terlihat adanya perubahan organ reproduksi yang nyata, lendir estrus jelas serta terjadi perdarahan metestrus.
Mekanisme ini belum diketahui secara tepat, tetapi diduga karena rendahnya sekresi estradiol. Terdapat kecenderungan predisposisi herediter pada breed Guernsey dan estrus melemah dibanding dengan breed FH. Silent heat dapat disebabkan oleh faktor pemeliharaan yang kurang baik (kurang gerak, kandang gelap, temperatur dan kelembaban yang tinggi), defisiensi nutrisi, penyakit kronis, predisposisi genetis atau dapat disebabkan oleh faktor hormonal. Pada kasus silent heat, proses ovulasi berjalan secara normal dan bersifat subur, tetapi tidak disertai dengan gejala birahi atau tidak ada birahi sama sekali. Silent heat sering dijumpai pada hewan betina yang masih dara, hewan betina yang mendapat ransum dibawah
kebutuhan normal, atau induk yang sedang menyusui anaknya atau diperah lebih dari dua kali dalam sehari. Sedang pada kejadian sub estrus, proses ovulasinya berjalan normal dan bersifat subur, tetapi gejala birahinya berlangsung singkat/pendek (hanya 3-4 jam). Sebagai predisposisi dari kasus silent heat dan sub estrus adalah genetik. Pada kejadian silent heat dan sub estrus sebenarnya hormon LH mampu menumbuhkan folikel pada ovarium sehingga terjadi ovulasi, tetapi tidak cukup mampu dalam mendorong sintesa hormon estrogen oleh sel granulosa dari
folikel de Graaf. Hal inilah yang menyebabkan tidak munculnya birahi.
Penanganan kasus silent heat dan sub estrus dapat dilakukan dengan perbaikan manajemen pemeliharaan agar ternak mendapat cahaya yang cukup, peningkatan kualitas pakan agar ternak mendapat nutrisi yang cukup sehingga mekanisme hormonal dalam tubuh dapat berjalan dengan baik. Pemberian hormon progesteron ini akan memberikan feed back negatif terhadap hipotalamus dengan menghasilkan hormon GnRH untuk merangsang hipofise untuk menghasilkan LH/FSH yang menstimulasi gonad untuk mesekresikan estardiol.

Kadar hormon gonadotropin yang rendah (FSH dan LH)
Rendahnya kadar hormon LH dalam darah dapat menyebabkan terjadinya delayed ovulasi (ovulasi tertunda) dan kista folikuler. Karena rendahnya kadar LH, fase folikuler diperpanjang. Sehingga folikel yang seharusnya mengalami ovulasi dan memasuki fase luteal tertunda waktunya atau tidak terjadi sama sekali. Gejala yang nampak dari kasus ini adalah kawin berulang (repeat bredeer). Gangguan sekresi hormon FSH dan LH juga dapat menyebabkan terjadinya kasus anovulasi (kegagalan ovulasi). Kegagalan ovulasi ini karena adanya kekurangan atau kegagalan pelepasan hormon LH, yang mengakibatkan folikel de Graaf yang sudah matang gagal pecah sehingga terbentuk cyctic folikel. Kegagalan ovulasi juga dapat disebabkan oleh endokrin yang tidak berfungsi sehingga mengakibatkan perkembangan kista folikuler). Cysctic folikel dan luteal dapat dibedakan melalui palpasi rectal dan USG.
Penanganan kasus di lapangan untuk cystic folikel dilakukan dengan pemberian GnRH, yaitu hormon gonadotropin yang mempunyai efek LH (misalnya hormon hCH chorulon®, kombinasi antara hormon hCG, GnRH dan PGF2α atau Nympalon dengan dosis 300 IU chorionic gonadotropin ditambah progesteron). Sedangkan penanganan untuk cysticluteal dapat dilakukan dengan pemberian PGF2α (Prosolvin®, Estrumen®, Reprodin® atau Prostavet®).

Abnormalitas sel telur
Abnormalitas sel telur dapat terjadi karena proses ovulasi yang tidak normal, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon-hormon reproduksi. Beberapa bentuk abnormal dari sel telur adalah degenerasi sel telur, zona pelusida yang robek, sel telur muda, sel telur yang bentuknya gepeng, oval (lonjong) serta mini egg cell
dan giant egg cell. Adanya abnormalitas pada sel telur akan menyebabkan kegagalan pada proses fertilisasi sehingga sapi yang telah dikawinkan/IB tidak bunting. Kelainan seperti ini tidak dapat diobati, induk hendaknya diafkir. Infeksi penyakit Endometritis akut Hewan yang mengalami endometritis akut biasanya memperlihatkan gejala sakit, demam, keluar discharge, anoreksia, dan terjadi penurunan produksi susu. Uterus setelah 40 hari partus berukuran 8-10x lebih besar dari ukuran normal. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik intravaginal yang dikombinasikan dengan antibiotik general.

Endometritis kronis
Sekitar 50% dari kasus endometritis kronis pada umumnya tidak terdeteksi. Gejala yang terlihat pada ternak adalah keluarnya discharge purulent (putih kekuningan). Bila sudah berlangsung lama biasanya hewan tidak memperlihatkan gejala sakit dan birahi. Untuk mengamati kasus ini dan mendeteksi adanya discharge dapat menggunakan vaginoscope. Penanganan kasus dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik. Bila ditemukan adanya corpus luteum dapat diberikan Prostaglandin (Prosolvin). Akan lebih baik, jika terapi menggunakan kombinasi antibiotik dengan hormon. Pyometra merupakan bentuk khusus dari endometritis kronis, ditandai dengan pengumpulan nanah yang banyak dalam uterus, servix tidak berdilatasi sehingga discharge tidak keluar. Penanganan penyakit dilakukan dengan cara melisiskan corpus luteum dalam ovari dengan pemberian Prostaglandin dan antibiotik. Tiga hari setelah pemberian obat, hewan akan menunjukkan gejala estrus dan cervix akan dilatasi sehingga discharge keluar.

Brucellosis
Salah satu ancaman penyakit yang dapat menghambat pengembangan populasi dan produktivitas ternak sapi perah adalah penyakit brucellosis. Brucellosis pada ternak sapi disebabkan oleh kuman Brucella abortus. Ternak yang terinfeksi kuman Brucella dapat mengalami abortus, retensi plasenta, orchitis dan epididimitis serta dapat mengekskresikan kuman ke dalam uterus dan susu. Kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui penetrasi membran mukosa saluran pencernaan, mulut, saluran reproduksi dan selaput lendir mata. Brucellosis pada sapi merupakan penyakit hewan menular yang ditandai oleh abortus (keluron) pada kebuntingan tua. Kejadian abortus pada sekelompok sapi yang sedang bunting dapat mencapai 5-90%, tergantung pada frekuensi penularan, virulensi kuman, kondisi inang dan sebagainya. Infeksi Brucellosisi pada hewan terjadi persisten seumur hidup, dimana kuman Brucella dapat ditemukan didalam darah, urin, susu dan semen. Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi yang besar (Rp. 138,5 Milyar/tahun) akibat penurunan angka kelahiran karena abortus, penurunan produksi susu, gangguan reproduksi (infertilitas dan sterilitas), penurunan prestasi kerja akibat nyeri pada persendian lutut, penurunan nilai jual susu dan nilai jual sapi.
Gejala yang utama dari brucellosis pada sapi adalah abortus pada umur kebuntingan 6-7 bulan ke atas. Abortus sendiri terjadi karena rapuhnya pertautan placenta fetalis dengan placenta maternalis sehingga terpisah sebagai akibat bersarannya kuman Brucella di tempat itu. Setelah abortus 2-3 kali biasanya infeksi menjadi menetap atau kronis, tidak memperlihatkan tanda-tanda klinik dan sapi yang bersangkutan dapat kembali bunting normal. Akan tetapi sapi-sapi demikian tubuhnya terus menerus mengeluarkan kuman Brucella (carrier) yang bersifat patogen bagi sapi lain maupun bagi manusia.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan antara lain dengan (a) sanitasi dan higiene terutama pada tata laksana pakan dan perkandangan, merupakan pemutusan alur penularan. Hal ini berhubungan dengan sifat kuman Brucella yang peka terhadap kekeringan/pemanasan dan desinfektan., (b) sertifikat bebas Brucellosis, sertifikat diberikan apabila dengan uji serologik sebanyak dua kali dengan selang waktu 30 hari, seekor sapi menunjukkan hasil yang tetap negatif. Hanya sapi yang mempunyai sertifikat ini yang dapat dimasukkan ke suatu daerah atau diantarpulaukan. Dalam hal pemasukan sapi antar daerah, pengawasan lalu lintas ternak dan fungsi karantina harus dilaksanakan dengan seksama dan (c) melaksanakan vaksinasi baik dengan vaksin hidup yang sudah dilemahkan maupun dengan vaksin mati, terutama yang diberikan kepada anak-anak sapi umur 3-8 bulan dan sapi dara. Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan imunitas sampai kepada kebuntingan ke 5.

Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira,gejala penyakit ini sangat bervariasi ulai dari demam, ikterus, hemoglobinuria dan infeksi dapat bersifat subklinis yang dapat menyebabkan keguguran pada hewan bunting, sampai dengan hepatitis dan nephritis yang berat, bahkan dapat menyebabkan kematian penderitanya. Titik sentral penyebab leptospirosis adalah urin hewan terineksi leptospira yang menemari lingkungan.
Penularan penyakit dapat terjadi melalui kulit lecet atau melalui selaput lendir mata, hidung dan saluran pencernaan. Pembawa utama penyakit adalan rodentia. Percikan air kemih penderita di atas lantai kandang yang keras dapat menyebabkan infeksi lewat pernapasan. Infeksi lewat kulit dengan mudah terjadi bila ternak terkena air yang terkontaminasi leptospira. Setelah masuk dalam tubuh, leptospiran akan menimbulkan leptospiremia dan kemudian ada kecenderungan untuk menetap di hati, ginjal atau selaput otak. Dalam kasus perakut dapat menyebabkan kematian yang cepat. Pada sapi dewasa dapat berbentuk akut, sub akut, atau kronik. Dalam bentuk akut gejala yang menonjol adalah ikterohemoglobinuria, disertai demam dan anemia, kematian terjadi setelah 2-4 hari. Ternak yang sedang laktasi mengalami
penurunan produksi, susu bercampur darah.
Produksi susu kembali normal setelah dua minggu, namun seringkali terjadi kerusakan ambing yang permanen. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menyingkirkan hewan pembawa terutama rodentia, pemberian air minum harus dilakukan melalui bak bersih, ternak dihindarkan untuk minum air selokan atau kubangan, serta vaksinasi. Pengobatan ternak sakit dapat dilakukan dengan pemberian antibiotika. Sapi dewasa yang terinfeksi leptospirosis dapat diobati dengan dosis masif antibiotika yang meliputi penisilin streptomycine, auremycine, kombinasi steptomycine-penisilin, dan bacitracin penisilin.

Infectious bovine rhinotracheitis (IBR)
Penyakit IBR adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus famili Herpesviridae yang dapat menyerang alat pernapasan bagian atas dan alat reproduksi. Angka prevalensi penyakit IBR pada sapi perah telah meningkat dan prevalensi IBR pada hewan muda (2 – 3 tahun) lebih rendah dibandingkan pada hewan berumur lebih tua (SUDARISMAN, 2003). Penyakit ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi akibat infeksi sekunder yang dapat menyebabkan bronchop-neumonia, keguguran pada ternak bunting dan kematian pada anak sapi. Penularan penyakit dapat terjadi secara vertikal maupun horizontal. Penularan secara vertikal melalui intra uterina sedangkan secara horizontal dapat melalui inhalasi dari cairan hidung yang mengandung virus serta melalui semen. Virus dapat hidup dalam tubuh selama 17 bulan dan pada saat tertentu dapat menimbulkan wabah.
Gejala klinis IBR ternyata tidak hanya pada saluran pernapasan, tetapi juga pada saluran pencernaan, saluran reproduksi, ocular carcinoma dan gejala syaraf berupa encephalitis. Gangguan reproduksi yang menonjol berupa kemajiran, abortus, repeat breeders dan pyometra.

Comments are closed.